Ekspresikan Kritik Lewat Panggung Seni Terbuka

Iklan Semua Halaman

Ekspresikan Kritik Lewat Panggung Seni Terbuka

Ekspektasi
Tuesday, 1 October 2019

Advertise

Advertise

EKSPEKTASI.ID - "Kemanusiaan itu / seperti terang pagi // Rekahkan harapan // Menepis kabut gelap // Niatkan, tinju terkepal / Pekik menebal / Terjang Aral // "

Ekspresikan Kritik Lewat Panggung Seni Terbuka
Beberapa dari ratusan poster kritik bernada satire yang ditujukan kepada pemerintah dan DPR | Foto : Adi

Penggalan lirik lagu "Seperti Rahim Ibu" itu, mampu menghangatkan suasana di satu sudut di pusat kota Jember pada Sabtu (28/09/2019) kemarin. Lagu yang liriknya digubah jurnalis kawakan Najwa Shihab dan dinyanyikan band indie Efek Rumah Kaca itu menjadi satu dari sekian lagu heroik dan bernuansakan kritik sosial yang dipentaskan di pinggir jalan yang ada di samping gedung DPRD Jember.

Tanpa panggung khusus dan dengan peralatan musik ala kadarnya, pentas seni terbuka itu mampu menyedot animo ratusan warga Jember yang didominasi anak muda, untuk datang dan larut dalam nuansa kritik sosial berbalut pentas seni.

"Ini menjadi bagian dari aksi kami untuk menolak berbagai regulasi yang kami sebut ngawur. Sengaja kami rancang berbeda, karena kami ingin mewadahi ekspresi dari teman-teman berbagai kalangan, termasuk seniman, untuk menyuarakan aspirasi mereka terhadap kondisi negara kita saat ini," ujar Trisna Dwi Yuni Aresta, salah satu panitia penggagas acara bertajuk "Ratarantai: Mencari Suaka di Negeri Sendiri" saat ditemui di sela-sela acara.

Tak hanya pertunjukan musik. Panggung terbuka itu juga diisi dengan orasi, musikalisasi puisi serta dialog. Tentu saja dengan tema utama: mengkritisi berbagai regulasi yang selama beberapa hari ini dikecam oleh kalangan mahasiswa dan pelajar di berbagai kota.

"Kami meyakini, masih ada aspirasi atau suara-suara lain yang kurang terwadahi, jika hanya dalam bentuk demonstrasi. Pentas terbuka ini menjadi semacam upaya membuka ruang publik sebagaimana prinsip-prinsip demokrasi," lanjut mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Jember ini.

Digagas secara spontan dan persiapan hanya beberapa hari, aksi yang dimulai sejak sore itu, rupanya mampu hidup bahkan hingga pergantian hari. Tak banyak yang beranjak, meski malam semakin larut.

Melalui acara panggung terbuka ini, Trisna dan rekan-rekannya seolah menegaskan, bahwa gelombang penolakan terhadap berbagai regulasi yang mereka sebut ngawur, bersifat inklusif.

"Karena kemarin, kita sempat mengajak teman-teman seniman untuk ikut bersama aksi turun ke jalan, memprotes regulasi ngawur seperti pelemahan KPK dan sebagainya. Tetapi mereka ragu, karena merasa bukan orang kuliahan. Nah acara ini adalah jawabannya," tutur aktivis pers kampus ini.

Nuansa inklusivitas dari gerakan protes ini semakin terasa dengan beragamnya peserta yang datang. Tak hanya seniman dan mahasiswa. Bahkan anak-anak "STM" (kini disebut SMK/Sekolah Menegah Kejuruan) pun juga turut hadir.

Mahasiswa Ekspresikan Kritik Lewat Panggung Seni Terbuka
Trisna Dwi Yuni Aresta, salah satu panitia saat diwawancarai beberapa aktivis pers kampus mahasiswa. | Foto : Adi

Mereka, pelajar dan alumni beberapa STM di Jember, seolah terjangkiti semangat dari rekan-rekan sebayanya di ibukota, untuk turut menyuarakan protes atas situasi yang mereka sebut sebagai #ReformasiDikorupsi.

"Saya memang tidak tahu mendalam tentang hukum. Tapi saya tidak setuju dan khawatir kalau KPK dilemahkan. Karena nanti kekayaan negara kita akan dirampok para koruptor yang berkuasa di sana," ujar Rizki Nur alias Kiki Bengok, seorang pelajar STM yang malam itu datang bersama rekan-rekannya dengan dandanan mirip anak Punk.

Kritik Lewat Poster Satire

Menariknya, meski tanpa "sponsor", penggagas acara tidak menerapkan "tiket bertarif" bagi masyarakat yang menikmati pertunjukan seni bernuansakan protes kepada pemerintah itu. Gratis.
"Untuk "tiket masuknya", kami minta mereka yang datang, bersedia menuangkan protesnya melalui poster yang mereka bawa dan buat sendiri. Kami menyediakan ruang untuk memajang poster protes tersebut," papar Trisna.

Tak ayal, ratusan poster berderet yang berisikan kritik atas situasi negara belakangan ini, terpajang dengan diikat tali sederhana, sepanjang acara. Tanda pagar (tagar) seperti SaveKPK, TolakRKUHP dan sebagainya, menjadi tema utama dalam kritikan mereka.

Tak ada "komando" khusus, maka jadilah beraneka ragam isi protes dalam spanduk terpampang. Banyak pula  kalimat kritik yang dibungkus dengan nuansa Satire.

Meski pemerintah menegaskan menunda pembahasan Rancangan KUHP yang dinilai sebagian publik kontroversial, gelombang kritik dari aktivis dan mahasiswa masih terus berlanjut. Mereka terutama kecewa dengan disahkannya revisi UU KPK yang mereka nilai, sangat kentara bertendensi melemahkan kinerja lembaga anti rasuah.

"Segala macam satire pada poster-poster ini, murni aspirasi rakyat sebagai wujud ekspresi demokrasi dan partisipasi publik," jelas Trisna.

Termasuk sebuah poster besar yang dipasang di depan gerbang masuk DPRD Jember. Poster yang ditulis di atas kain hitam itu bertuliskan kalimat "Dilarang Masuk, di dalam banyak tikus,". Sebuah sindiran untuk parlemen yang ada di pusat.

"Ini simbol kekecewaan karena KPK dilemahkan oleh DPR yang didukung presiden. Kalau bicara data, korupsi dari kalangan parlemen cukup tinggi memang," papar Trisna.

Karenanya, lanjut Trisna, para aktivis di Jember masih akan melanjutkan aksi sampai tujuan mereka tercapai. Namun tidak semua semua rancangan Undang-Undang (RUU) yang kini sedang disorot, ditolak oleh para aktivis lintas elemen di Jember. Malah, ada satu RUU yang sangat diharapkan untuk segera disahkan.

Kritik Lucu Singgung DPR
Kritik kepada parlemen karena dianggap melemahkan KPK | Foto : Adi

"Kami mendesak, agar RUU Penghapusan Kekerasan Seksual (RUU PKS) bisa sesegera mungkin disahkan," tegas Trisna.

DPR yang baru dilantik pada Senin (30/09) ini, juga diharapkan bisa segera menjadikan RUU yang dinilai cukup progresif itu, untuk segera menjadi aturan hukum yang berlaku mengikat.

"Sebab, bagi kami RUU PKS ini tidak saja melindungi kaum perempuan, tapi juga mengakomodir keberagaman gender. Regulasi yang tercakup di dalamnya, akan lebih memberikan rasa aman bagi perempuan saat beraktivitas di ruang publik, misalnya," urai Trisna.

Panggung terbuka ini berakhir sekitar pukul 01:00 dini hari, dengan ditutup aksi solidaritas dan doa bersama bagi Randi dan Yusuf Kardawi, dua mahasiswa Universitas Halu Oleo, Kendari, Sulawes Tenggara. Keduanya gugur karena luka tembak dalam demonstrasi yang berakhir ricuh beberapa waktu yang lalu. (*)



Reporter : Adi
Redaktur : Najmal