Serunya Drama Kolosal Anak ala Warga Desa di Bondowoso Setelah Upacara HUT RI

Iklan Semua Halaman

Serunya Drama Kolosal Anak ala Warga Desa di Bondowoso Setelah Upacara HUT RI

Ekspektasi
Saturday, 17 August 2019

Advertise

Advertise

Ekspektasi.id Drama Kolosal Anak Desa - Peringatan proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia serentak berlangsung di seluruh nusantara. Termasuk di desa-desa terpencil pada salah satu desa di Bondowoso.

Desa Kembang meriahkan hari kemerdekaan dengan menggelar upacara ilanjutkan drama kolosal ala warga desa. Mereka mengadakan upacara bendera di sebuah taman kecil yang berdekatan dengan pemakaman desa.




"Kami ingin tumbuhkan semangat patriotisme kemerdekaan dan dipertahankan hingga anak-anak sampai cucu-cucu kami. Generasi yang lebih muda harus sadar, bahwa para pendahulu kami pernah memenangkan perjuangan kemerdekaan, tidak diberikan oleh negara lain," kata Peltu Giyono Adi Solik, Ketua RW 8, Desa Kembang, Kecamatan Kota, Bondowoso setelah upacara bendera.

Meski bernuansa simpel, warga tampak antusias mengikuti upacara bendera. Pengibaran bendera, meskipun tidak sesempurna Paskibraka yang sebenarnya, masih berusaha mengibarkan bendera dan melaksanakan upacara sesuai dengan protokol upacara bendera yang berlaku.

"Cukup spontan, tetapi kami sudah melakukan latihan upacara sejak sekitar seminggu yang lalu," kata pria pensiunan dari TNI sejak 2006.

Sesekali, beberapa petugas pengibaran bendera melakukan kesalahan dan menahan tawa. Demikian pula, puluhan warga desa yang berpartisipasi dalam upacara itu ikut tertawa. Namun tawa itu langsung ditangkap dan ditegur oleh rekannya. Sehingga upacara bendera kembali khusyuk.

Menariknya, setelah upacara bendera, para petugas menggelar drama kolosal yang menggambarkan perjuangan rakyat Indonesia untuk memenangkan dan mempertahankan kemerdekaan. Drama kolosal ini dimainkan oleh anak-anak penduduk desa setempat yang masih berusia sekolah dasar dan menengah pertama.

Senjata mainan plastik digunakan untuk properti drama dalam adegan pengambilan gambar. Tidak lupa, beberapa pemain yang mengenakan seragam sekolah untuk para pejuang dan seragam pramuka untuk musuh, dicat merah sebagai tanda darah.

"Sekarang memang ada banyak hal unik, jadi kami juga berpartisipasi dalam mengadakan upacara kemerdekaan diikuti dengan drama kolosal perjuangan para pendahulu," kata Giyono.




Untuk menambah perayaan kemerdekaan yang meriah, sebelum pertunjukan drama kolosal, atraksi pertunjukan tari diadakan.

"Tadi malam, sebelum upacara, kami mengadakan upacara renungan. Di TNI istilah itu seperti renungan suci. Kami ingin mengundang warga, terutama generasi muda untuk merenungkan dan mengingat perjuangan para pahlawan sehingga kami sekarang bisa merasakan kemerdekaan, "kata Giyono.