Ikhtiar Pasutri Jember Membangkitkan Kreatifitas Masyarakat Desa

Iklan Semua Halaman

Ikhtiar Pasutri Jember Membangkitkan Kreatifitas Masyarakat Desa

Ekspektasi
Monday, 26 August 2019

Advertise

Advertise

EKSPEKTASI.ID - Egrang adalah ciri khas dan menu utama dalam setiap acara di Pasar Lumpur. Puncak dari permainan egrang dalam Pasar Lumpur ini adalah dengan digelarnya Egrang Festival yang akan diadakan tahun ini pada 21 September 2019.

Sebelumnya, pada acara IX Egrang Festival pada 2018, komunitas Tanoker telah menarik perhatian para wisatawan dari berbagai daerah, bahkan dari mancanegara negara. Festival ini juga dibuka oleh Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Yambise, serta Bupati Jember dan Wakil Bupati.


Ikhtiar Pasutri Jember Membangkitkan Kreatifitas Masyarakat Desa
Ibu-Ibu Guru TK PAUD datang ke Pasar Lumpur

"Dengan menggelar Pasar lumpur di Ledokombo, diharapkan menunjukkan kreativitas masyarakat di Kecamatan Ledokombo yang merupakan tujuan tempat pembelajaran yang menginspirasi" kata Iwan.

Antara Festival Egrang dan pemberdayaan sosial memang tak terpisahkan. Ini karena acara pariwisata berbasis pedesaan yang diadakan oleh Komunitas Tanoker, seperti Festival Egrang dan Pasar Lumpur, juga telah menjadi salah satu cara untuk pemberdayaan masyarakat di Kabupaten Ledokombo, yang sebelumnya dikenal sangat terpencil dan dengan tingkat minimum kemakmuran ekonomi.

Ledokombo, yang terletak jauh dari pusat Jember, telah dikenal sebagai tas pengiriman untuk pekerja migran Indonesia (sebelumnya dikenal sebagai Tenaga Kerja Indonesia / TKI) yang berangkat untuk pergi ke luar negeri. Namun, dengan upaya bertahap dari komunitas Tanoker, wajah Ledokombo secara bertahap menunjukkan kemajuan.

Tanoker sendiri, yang berasal dari bahasa Madura yang berarti "kepompong", mulai berdiri lebih dari 10 tahun yang lalu, mulai dari keprihatinan pasangan yang sudah menikah, Suporahardjo dan Farha Ciciek. Supo, yang adalah seorang doktor ilmu sosial dari Universitas Indonesia (UI), sebelumnya memiliki karir yang cukup mapan sebagai konsultan di Jakarta selama bertahun-tahun.


Pak Supo

Supo, yang juga senior Presiden Jokowi di Fakultas Kehutanan UGM, juga dikenal sebagai aktivis sosial dengan banyak hubungan baik di dalam maupun di luar negeri. Begitu juga dengan istrinya, Farha yang merupakan alumnus Fakultas Ushuluddin UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

Sampai sekarang, Farha masih aktif dan terdaftar sebagai pelatih Aliansi Perdamaian Indonesia (AIDA) bersama dengan beberapa tokoh nasional seperti Imam Prasodjo dan Hasibullah Satrawi (sebagai direktur).

AIDA adalah sebuah LSM yang berfokus pada upaya untuk merekonsiliasi dan mendamaikan perdamaian antara pelaku dan korban aksi terorisme seperti Bom Bali dan sebagainya. Lembaga ini juga sering mengkampanyekan perdamaian dengan mengundang mantan teroris yang telah bertobat.

Namun berdasarkan alasan dan keinginan untuk berkumpul dengan keluarga, pasangan aktivis sosial ini memutuskan pada tahun 2009 untuk kembali ke kampung halaman Supo di Desa Ledokombo, kecamatan Ledokombo, Jember. Sebuah desa yang pada waktu itu sangat sepi dan jauh dari kebisingan kota ketika mereka melintas di Jakarta.