AJI Jember Sayangkan Upaya Menghambat Peliputan Demo Mahasiswa Papua

Iklan Semua Halaman

AJI Jember Sayangkan Upaya Menghambat Peliputan Demo Mahasiswa Papua

Ekspektasi
Thursday, 29 August 2019

Advertise

Advertise

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jember menyayangkan terjadi upaya-upaya pelarangan peliputan terhadap aksi damai dan unjuk rasa yang dilakukan oleh kelompok mahasiswa Papua di Jember.

Menurut AJI, upaya tersebut bisa menjadi ancaman terhadap berekspresi dan kebebasan pers yang telah dijamin oleh undang-undang.


AJI Jember Sayangkan Upaya Menghambat Peliputan Demo Mahasiswa Papua


"Kami melihat ada upaya pelarangan yang dilakukan aparat keamanan dan Pemkab Jember. Ini merupakan bentuk intervensi terhadap kerja-kerja jurnalistik yang ada di Jember," ujar Mahrus Sholih, Plt Ketua AJI Jember saat dikonfirmasi Ekspektasi.id.

Pernyataan sikap AJI Jember ini menyusul sikap dari Polres Jember yang mencoba menghimbau para jurnalis di Jember agar tidak meliput aksi damai yang dilakukan Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Papua (Permappa) di Jember. Aksi damai dan keprihatinan tersebut digelar mahasiswa Papua pada Rabu (28/08) sore.

Upaya polisi agar aksi tersebut tidak diliput oleh para jurnalis, dilakukan dengan cukup rapi. Upaya serupa juga dilakukan oleh Pemkab Jember.

"Kami melihat upaya-upaya itu sudah pada tahap yang mengkhawatirkan akan mengganggu independensi dan kebebasan pers. Apalagi alasan yang disampaikan, yakni ancaman terhadap NKRI itu masih bisa diperdebatkan," lanjut Mahrus.

Dalam aksi yang berlangsung damai tersebut, beberapa mahasiswa Papua memang ada yang mengibarkan bendera Papua Merdeka berupa Bintang Kejora. Selain itu, mereka juga meneriakkan tuntutan referendum untuk menentukan nasib sendiri bagi bangsa Papua.

Sikap itu sebagai respon keras atas aksi bernada rasisme yang selama ini ditimpakan kepada mahasiswa Papua yang sedang menuntut ilmu di Jawa dan Bali.

Menurut Mahrus, kecaman terhadap rasisme yang disuarakan oleh mahasiswa merupakan hal yang wajar. "Meski mereka juga menuntut referendum, tetapi kalimatnya yang saya baca itu dilakukan jika kasus-kasus rasisme yang menimpa warga Papua masih terjadi," tutur Mahrus.

AJI Jember menegaskan, tugas jurnalis adalah bekerja menyampaikan informasi pada publik. Sehingga pertimbangan soal Pemuatan lambang makar, bukan menjadi alasan untuk menghambat kerja jurnalistik.

"Tugas media bukan pada keamanan negara, tetapi pada kepentingan publik. Sehingga dalam konteks itu, tugas media berhak untuk mencari, mengolah dan menyajikan informasi yang ditemukan di lapangan," papar Mahrus.

Meski demikian, AJI Jember tetap menyerukan media agar lebih bijak dalam memuat berita. Antara lain dengan mengedepankan perspektif Jurnalisme damai (peace journalism) dalam pemberitaan soal Papua.

"Agar informasi yang disajikan tidak memantik konflik selanjutnya. Tetapi yang harus digarisbawahi, Jurnalisme damai tidak menghilangkan konteks dan substansi informasi yang diperlukan," pungkas Mahrus. (*)